Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bertahun-tahun blog ini saya tinggalkan begitu saja. Tidak pernah ada postingan dan bahkan terhitung ini masih kedua kali saya membuka akun blog saya setelah kurang lebih 4 hingga 5 tahun mungkin.
kepada para pembaca dan teman-teman account google+ dimana sebelumnya kita selalu sharing dan berbagi ilmu-ilmu dunia maupun agama yang tentunya sangat bermanfaat terutama teruntuk saya sendiri dikarenakan bisa belajar sangat banyak hal yang menurut saya itu sangat berharga. saya meminta maaf karena sudah lama tidak aktif di blog maupun di google+.
Bismillah, mulai saat ini saya akan kembali aktif untuk bisa belajar dan sharing seperti dulu lagi. semoga kebahagiaan dan kedamaian senantiasa kita dapatkan aamiin
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
at 04:02 0 comments
by felix siauw
Felix Siauw
Shared publicly - Yesterday 12:52 PMorang yang terpuji, nggak perlu pujian | tapi kalau kamu haus pujian, mungkin engkau belum terpuji :D
pujian itu ujian, hinaan juga ujian, dan sikap terhadap ujian | adalah bersabar, dan mengembalikan semuanya pada Allah :)
orang yang terpuji, nggak perlu pujian | tapi kalau kamu haus pujian, mungkin engkau belum terpuji :D
pujian itu ujian, hinaan juga ujian, dan sikap terhadap ujian | adalah bersabar, dan mengembalikan semuanya pada Allah :)
at 18:33 0 comments
perjuangan itu ya nggak mudah
namanya kesuksesan itu ya perlu perjuangan, tapi sayangnya banyak orang yang mau suksesnya aja, tapi nggak mau perjuangannya, padahal itu sudah satu paket, kayak masalah sama berkah, itu sudah satu paket, karena paketan berkah, itu bungkusannya masalah
gampangnya, terima aja paketannya, ambil isinya (berkahnya), buang masalahnya (bungkusnya), hehehe...
sukses itu sepaket dengan sumberdaya yang terbatas, kesabaran menghadapi iri dengki orang, keteguhan dalam menghadapi kesulitan, bangkit dari jatuh, tidak lali terhadap puji-pujian, dan bertaubat dalam segala dosa
itu baru sukses, apalagi surga dan keridhaan serta ampunan Allah? tentu sabar yang kita miliki harus lebih, istiqamah yang kita punyai harus diatas rata-rata, dan semua ilmu kita pun harus diatas normal
maka berjalan ke surganya Allah, mengharuskan kita jadi manusia istimewa
pertanyaannya? apa yang bisa kita lakukan sekarang, sebagai kontribusi kita terhadap ummat, yang membuat kita menjadi istimewa? :D
at 18:08 0 comments
4 Keutamaan Ayat Kursi
4 Keutamaan Ayat Kursi
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “ayat kursi ini memiliki kedudukan yang sangat agung. Dalam hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa ia merupakan ayat teragung yang terdapat dalam Al-Quran” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim).
Banyak sekali keutamaan dari ayat kursi. Penulis akan memaparkan beberapa saja dari keutamaan dari ayat kursi.
1. Ayat yang Paling Agung dalam Al-Quran
Sebagaimana yang ada pada pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah kepada Ubay bin Ka’ab, “Ayat mana yang paling agung dalam kitabullah?” Ubay menjawab, “Ayat kursi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dada Ubay kemudian berkata, “Wahai Abu Mundzir, semoga engkau berbahagia dengan ilmu yang engkau miliki.” (HR. Muslim).Ayat Kursi dikategorikan sebagai ayat yang paling agung karena di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung, yaitu Al Hayyu dan Al Qayyum. Namun ulama berselisih pendapat manakah nama Allah yang paling agung.
2. Keagungannya Melebihi Langit dan Bumi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi melebihi agungnya Ayat Kursi (karena di dalam ayat tersebut telah mencakup Nama dan Sifat Allah)”Sufyan ats-Tsauri berkata, “Sebab ayat kursi merupakan (salah satu) kalamullah (perkataan Allah), sedangkan kalamullah itu lebih agung dari ciptaan Allah yang berupa langit dan bumi” (HR. At-Tirmidzi)
3. Salah Satu Bacaan Dzikir Sebelum Tidur
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi” (HR. Al-Bukhari).Jadikanlah ayat kursi sebagai dzikir rutin yang dibaca ketika hendak tidur. Selain itu, ayat kursi juga termasuk bacaan dzikir pagi dan petang.
4. Salah Satu Sebab Masuk Surga
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setelah selesai shalat, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian” (HR. An Nasa-i, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).Beberapa hadits di atas menunjukkan keutamaan Ayat Kursi. Apabila kita merutinkannya, maka kita akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya, terkhusus untuk akhiratnya. Ayat Kursi sendiri bukanlah ayat yang panjang dan sulit untuk dihapal. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkannya. Wallahul Muwaffiq.
***
Referensi: Terjemahan tafsir ayat kursi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Penulis: Wiwit Hardi P.
Artikel Muslim.Or.Id
at 08:28 0 comments
Al Qur’an Adalah Cahaya
Al Qur’an Adalah Cahaya
Yaitu firman Allah Ta’ala:
(وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ)
“Demikianlah Kami wahyukan ruh (Al Qur’an) kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy-Syura : 52)
Penjelasan ayat
Syaikh Muhammad Khalifah At Tammimi menjelaskan:“Demikianlah Kami wahyukan ruh (Al Qur’an) kepadamu dari sisi Kami“, demikianlah dalam ayat ini Allah sebut Al Quran adalah “Ruh” karena dengannya hiduplah hati, seperti badan yang hidup dengan ruh.
“tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami“. Kalau Anda berjalan di tempat gelap, tentu perlu lampu bukan? Begitulah, kekufuran adalah kegelapan, sedangkan lampunya adalah Al Quran.
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus“. Perhatikan, sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang Al Qur’an, tidak tahu apa-apa tentang iman, akhirnya menjadi penunjuk ke jalan yang lurus yang diikuti banyak orang. Itulah berkah cahaya ilmu, dan itulah berkah cahaya Al Quran.
Semoga bermanfaat.
—
Penulis: Amrullah Akadhinta
Artikel Muslim.Or.Id
at 08:20 0 comments
Agar Dunia Tak Memenjara (1)
Agar Dunia Tak Memenjara (1)
Sudah menjadi watak manusia untuk mencintai keindahan, kesenangan, kebahagiaan, atau yang senada dengannya, karena memang manusia diciptakan dengan dilengkapi hawa nafsu. Oleh karena itu, setiap yang berbau enak pasti digandrunginya. Itu tidak bisa dipungkiri. Harta, tahta dan wanita adalah tiga hal yang tidak akan pernah sepi dari para pengejarannya. Pesta, perayaan, senang-senang, dan hura-hura adalah sesuatu yang akan selalu melekat pada diri manusia.
Sesuai fitrahnya, manusia memang bergerak karena dorongan syahwatnya. Ia akan berusaha mewujudkan apa yang diinginkannya, dan memenuhi apa yang menjadi hasrat kesenangannya. Apa yang diinginkannya akan selalu tampak indah di matanya. Perhatikanlah firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut (yang artinya),
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.s. Âli ‘Imran [3]: 14).
Nah, begitulah manusia diciptkan memiliki rasa suka. Suka wanita, suka anak, dan suka harta. Rasa suka itu bukan monopoli kalangan tertentu. Semua jenis manusia punya rasa itu. Baik laki-laki maupun perempuan. Tua, muda, sama saja. Kaya, miskin, sehat, sakit, tak ada bedanya. Semuanya punya. Itulah fitrah. Oleh karenanya, ia tidaklah tercela jika memenuhi hasrat rasa sukanya itu. Yang tercela adalah apabila ia berlebih-lebihan dalam hasratnya dan memperturutkan hawa nafsunya. Camkanlah hadis Nabi Muhammad Saw berikut ini.
عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاث مهلكات: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ.
Dari Anas r.a. berkata, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tiga hal yang mencelakakan: sifat pelit yang diikuti; hawa nafsu yang dituruti; dan rasa bangga terhadap diri sendiri” (HR. Baihaqi. Syaikh Albani menghasankan hadis ini).
Namun, masih saja manusia lebih senang memperturutkan hawa nafsunya. Demi kesenangan, apa pun akan dilakukannya. Dunia memang tampak menyenangkan dan selalu lekat dengan yang berbau kesenangan: wanita, kekuasaan, perhiasan, permainan, dan lain-lain. Bahkan, sedari dulu pun pergulatan hidup manusia tidak lepas dari itu-itu saja. Gara-gara wanita, Al-Baghawi menyebutkan dalam kitab Tafsirnya Ma’âlim at-Tanzîl, bahwa si Qabil, anak laki-laki nabi Adam ‘Alaihissalam tega membunuh saudaranya sendiri Habil, demi merebut si cantik Iqlima.
Gara-gara kekuasaan, At-Thabari mencantumkan dalam kitabnya Jâmi’ al-Bayân, bahwa Walid bin Mus’ab, si Fir’aun Mesir, mengeluarkan perintah pembunuhan massal bayi laki-laki, karena takut kelak di antara bayi-bayi itu ada yang merebut kekuasaannya. Gara-gara kekayaan, Ibnu Katsir mengabadikan dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîmnya, bahwa si Qarun, konglomerat di zaman nabi Musa ‘Alaihissalam itu menjadi congkak dan sombong. Ketika diingatkan agar tidak bertingkah demikian, bukannya insyaf, justru kecongkakan dan kesombongannya semakin menjadi-jadi. Lalu Allah benamkan dirinya beserta seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi, hingga tak tersisa sedikit pun.
Begitu pula intrik-intrik yang terjadi di sepanjang sejarah manusia, selalu berkutat di situ-situ saja. Perseteruan antar preman, tawuran massal antar kampung, perkelahian antar anak bangsa, bahkan peperangan antar negara, juga seringkali disebabkan oleh hal-hal tersebut? Memang menyenangkan menjadi seorang pemenang. Lalu apa hasil yang dicapai dari sebuah kemenangan? Kesenangan, mungkin itulah yang akan mereka ucapkan. Tapi kesenangan yang seperti apa? Hakiki? Tentu bukan! Tidak seberapa lama kemudian kesenangan itu juga akan hilang. Karena kesenangan tersebut bersifat semu, tidak hakiki.
Lihatlah, bagaimana kesudahan Qabil setelah berhasil membunuh Habil? Apa yang terjadi pada Fir’aun setelah melenyapkan semua bayi laki-laki? Dan apa yang didapat Qarun setelah memamerkan kekayaannya? Bukankah kesenangan? Ya, kesenangan-lah yang mereka dapatkan, namun hanya sesaat. Setelah itu, mereka ditimpa kesusahan yang teramat, hasil dari apa yang mereka perbuat.
Sebab, kesenangan hakiki itu tempatnya ada di hati, hati yang tersentuh oleh cahaya ilahi. Seberapa banyak orang yang berharta namun tidak bahagia? Seberapa sering dijumpai orang yang bertahta namun tidak tenang hidupnya? Dan tidak jarang kita jumpai orang yang beristri cantik namun hidupnya sengsara. Orang lain menganggap hidupnya senang, namun dirinya mendapati batinnya ‘berteriak’ karena tersiksa oleh derapan rasa kekosongan yang berkepanjangan.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidupnya melarat, untuk sekedar makan saja ia kesusahan, tetapi secara batin ia bahagia. Tidak jarang pula orang yang istrinya tidak begitu cantik tetapi ia berbahagia dengan hidupnya. Apa pasal? Karena ia telah menemukan ketenangan di dalam hatinya. Sesuatu yang tidak bisa didapatkan dari harta, tahta, dan wanita. Ya, itulah keimanan. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya.
Penyair Arab pernah berdendang,
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (Q.s. Thâhâ [20]: 124).
Sekali lagi, kebahagiaan hanya akan didapatkan dengan keimanan. Sebab sesiapa yang merasakan nikmatnya iman, niscaya akan merasakan manisnya kebahagiaan yang hakiki. Sesuatu yang membuatnya merasa hidup dengan dada lapang, hati tenang, dan ketentraman batin.
Camkanlah kata-kata Ibnu Taimiyah yang dinukil ad-Dimasyqi dalam Ar-Raddu al-Wâfirnya berikut ini,
Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, siapa pun yang tidak masuk ke dalamnya, niscaya ia tidak akan masuk surga akhirat. Ada seseorang yang mengingatkanku tentang apa yang diperbuat musuh-musuh terhadapku. Maka aku katakan padanya, ‘Surga dan tamanku ada di dadaku, ia akan tetap selalu menyertaiku ke mana pun aku pergi
***
Penulis: Abu Hasan Abdillah, BA., MA.
Artikel Muslim.Or.Id
at 08:09 0 comments
22 Istilah Makanan Daging Babi yang Harus Diketahui
22 Istilah Makanan Daging Babi yang Harus Diketahui
at 08:08 0 comments
Nasehat Ulama Untuk Meninggalkan “Qiila wa Qaala” Di Internet
Nasehat Ulama Untuk Meninggalkan “Qiila wa Qaala” Di Internet
Asy Syaikh: menyibukkan apa?
Penanya: menyibukkan diri dalam “al qiila wal qaal” di internet
Asy Syaikh: al qiila wal qaal ?
Penanya: ya
Asy Syaikh: nasehatku agar mereka mempelajari ilmu (agama) dan menyibukkan diri dengan ilmu (agama) sehingga ia mencapai kebaikan dan mengamalkannya, dan ia memberikan manfaat bagi manusia dengan ilmu itu, dan hendaknya ia meninggalkan al qiila wal qool yang tidak memberikan kepada mereka kebaikan, ia hanya memberikan mereka miudharat, ini nasehat saya bagi mereka.
Penanya: dan mereka menyibukkan diri berbantah-bantahan sedangkan mereka bukan ahlinya
Asy Syaikh: selamanya (tidak!), wajib atas mereka untuk memperdalam ilmu agama dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfat dan janganlah mereka menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang mereka bukan ahlinya .
Penanya: Jazaakumullahhu khairan (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan).
[Transkrip tanya jawab bersama guru tercinta Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad, ulama muhaddits kota Madinah, hafidzahullah ta’aala, setelah pelajaran mata kuliah kitab Sunan An-Nasaaiy yang disampaikan di Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Madinah, Kerajaaan Arab Saudi. Tanggal rekaman: 2 Muharram 1435/ 05 November 2013] Keterangan:
Makna al qiila wal qaal menurut para ulama:
Al Imam Malik rahimahullah mengatakan: ” qiila wa qal” memperbanyak ucapan dan menyebar berita yang mengkhawatirkan, seperti ucapan seseorang: “si fulan mengatakan (begini)”, “si fulan melakukan (ini)” dan ikut-ikutan dalam perkara yang tidak pantas.
Al Imam An Nawawiy rahimahullah berkata: “qiila wa qaal” adalah masuk campur dalam kabar-berita orang lain dan menghikayatkan sesuatu yang tidak penting dari keadaan-keadaan dan perbuatan mereka. (Syarah Shahih Muslim, pada hadits no. 3236) . Beliau juga berkata : makna “qiila wa qaal” adalah; menceritakan semua yang ia dengarkan, ia berkata: “katanya begini”, “kata si fulan begitu” dari perkara yang ia (sendiri) tidak mengetahui keabsahannya, tidak pula menyangkanya (demikian). Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta, (tatkala) ia menceritakan semua yang ia dengarkan. (Syarah Riyadhus Shaalihin, Bab no. 41).
Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “qiila wa qaal” maksudnya mengutip ucapan dan kebanyakan apa yang diucapkan oleh manusia dan ia banyak berkomentar dengannya. Dan tidak ada tujuannya melainkan membicarakan orang lain, “mereka bilang begini dan katanya begitu”. Apalagi jika perkara ini terkait kehormatan Ahli Ilmu(ulama) dan kehormatan penguasa, maka akan sangat dan sangat dibenci di sisi Allah (Syarah Riyadhus Shalihiin).
Berkata guru kami Asy Syaikh Rabi’ hafidzahullah : “qiila wa qaal” adalah masuk campur dalam kebathilan dan pada perkara yang tidak penting. (Mudzakkiroh Fii Al-Hadits An-Nabawiy, hal. 18).
—
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id
at 08:05 0 comments
Jangan Bersedih Jika Dakwah Anda Tidak Diterima
Jangan Bersedih Jika Dakwah Anda Tidak Diterima
Oleh karena itu, wahai para dai yang mengajak kepada Allah, janganlah bersedih jika perkataanmu dicampakkan, atau tidak diterima di kesempatan pertama, karena engkau telah menunaikan kewajibanmu.
Tapi ingatlah, bahwa jika engkau mengatakan kebenaran karena mengharap wajah Allah, maka perkataan itu harus punya pengaruh, walaupun perkataan itu dicampakkan di depanmu, tapi perkataan itu harus punya pengaruh, sebagaimana ada ibroh dalam kisah Musa -alaihissalam- bagi para dai yang mengajak kepada Allah…
Perkataan yang benar, haruslah memiliki pengaruh, namun bisa jadi pengaruhnya langsung, bisa jadi pengaruhnya datang belakangan. Wallohul muwaffiq.
(Syarah Arbain Nawawiyyah: 131-132)
—
Penerjemah: Ust. Musyaffa Ad Darini, MA.
Artikel Muslim.Or.Id
at 08:02 0 comments
Nasehat Syaikh Shalih Al Fauzan Dalam Menyambut Ramadhan
Nasehat Syaikh Shalih Al Fauzan Dalam Menyambut Ramadhan
Beliau menjawab :
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan pengikutnya, dan segenap para sahabatnya. Amma ba’du.
Tidak lama lagi, hilal bulan Ramadhan yang diberkahi akan muncul dengan membawa berbagai kebaikan dan keutamaan bagi umat Islam. Inilah bulan yang Allah jadikan penuh dengan keberkahan, dimana pada bulan ini [dahulu] diturunkan al-Qur’an.
Allah menetapkan pada bulan itu ada Lailatul Qadar/malam kemuliaan. Allah mewajibkan puasa pada bulan ini kepada segenap kaum muslimin. Dan Allah mensyari’atkan puasa Ramadhan ini bagi seluruh umat Islam.
Siang harinya diwarnai dengan puasa. Malam harinya diisi dengan sholat malam. Dan apa-apa yang ada diantara waktu-waktu itu dihiasi dengan dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai jenis ketaatan.
Oleh sebab itu, semua waktu yang ada pada bulan itu penuh dengan keberkahan, semuanya mengandung kebaikan. Dan semuanya merupakan ghanimah/perbendaharaan dan harta yang sangat berharga bagi seorang muslim.
Maka sudah semestinya bagi setiap muslim untuk bergembira dengan datangnya bulan ini; karena pada bulan ini dia akan mendapatkan jalan keselamatan dari berbagai kebinasaan dan kehancuran.
Hal itu dikarenakan bulan ini menyajikan untuknya banyak sekali kebaikan dan sebab-sebab keselamatan, yaitu apabila dia benar-benar memahami agungnya kedudukan bulan ini dan memetik faidah darinya dengan sebaik-baiknya.
Adapun orang yang tenggelam dalam kelalaian atau diliputi kebodohan terhadap keagungan bulan ini, maka sesungguhnya orang semacam itu tidak akan ‘mampu’ membedakan antara bulan ini dengan bulan-bulan yang lain.Bahkan, bisa jadi dia akan menganggap bulan Ramadhan adalah bulan untuk bermalas-malasan. Bulan untuk menyantap berbagai makanan dan minuman.
Bulan untuk tidur di siang hari dan begadang di malam hari -tanpa faidah- sehingga dia tidak mendapatkan manfaat apa-apa darinya. Bahkan terjatuh dalam dosa.
Karena keburukan/dosa pada bulan itu akan dilipatgandakan dosanya daripada di bulan-bulan yang lainnya dan diberikan ganjaran hukuman yang lebih berat, sebagaimana pula pada bulan itu kebaikan akan diperbesar pahalanya.
Amal kebaikan pada bulan itu akan diperbesar pahalanya di sisi Allah jauh lebih banyak daripada amal kebaikan serupa yang dilakukan pada waktu-waktu selainnya. Demikian pula perbuatan-perbuatan maksiat maka dosanya jauh lebih berat, dan itu semuanya adalah disebabkan kemuliaan waktu yang ada pada bulan ini.
***
Dicuplik dari website beliau : http://alfawzan.af.org.sa/node/7473
—
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
at 07:59 0 comments
Memilih Pendapat yang Berbeda dari Para Ulama
Memilih Pendapat yang Berbeda dari Para Ulama
Orang awam kadang dibingungkan dengan pendapat ulama yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan boleh, ada yang tidak. Ada yang menyatakan haram, ada yang menyatakan halal. Ada ulama yang menyatakan wajib dan sunnah. Kalau kita sebagai orang yang buta akan dalil, bagaimanakah kita memilih pendapat-pendapat yang ada?
Yang jelas, ahlul ilmi atau orang yang berilmulah yang dijadikan referensi orang awam untuk bertanya ketika ia sulit menemukan dan memahami dalil. Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertanya pada orang yang berilmu,
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,
Ibnu Taimiyah –guru dari Ibnul Qayyim- rahimahullah berkata,
Syaikh As Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa kita diperintahkan untuk bertanya pada ahli ilmu di mana mereka diberikan kepahaman Al Qur’an. Mereka mengetahui dan memahami Al Qur’an tersebut. Ayat ini juga sekaligus pujian untuk orang yang berilmu. Adapun ilmu yang termulia adalah ilmu mengenai Al Qur’an. Bahkan Syaikh As Sa’di mengungkapkan bahwa ‘ahlu dzikri’ yang disebutkan dalam ayat adalah ahli Al Quran Al ‘Azhim. Merekalah ahlu dzikri yang sebenarnya. Mereka lebih utama dari lainnya yang menyandang nama semacam itu. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 463).
Sekarang, bagaimana jika kita dihadapkan pada pendapat ulama yang berbeda dalam suatu masalah? Ada ulama yang menyatakan boleh, ada yang menyatakan tidak boleh.
Kita bisa mengambil pelajaran dari hadits berikut,
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata bahwa dari hadits di atas sebagian ulama berdalil jika ada ulama yang menyatakan haram, ada pula yang menyatakan halal, maka hendaklah ia ambil pendapat yang menyatakan haram dalam rangka wara’ (hati-hati). Namun Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa tetap di sini dipandang terlebih dahulu dari para ulama yang berselisih. Manakah yang lebih berilmu, manakah yang lebih kredibel dari yang lainnya. (Lihat Fathul Dzil Jalali wal Ikram, 15: 156-157)
Berarti bagi orang awam yang mesti ia lakukan adalah memilih pendapat yang lebih hati-hati yang menunjukkan sikap wara’. Jika tidak mampu, pendapat yang diikuti adalah dari orang yang lebih dipandang berilmu dari yang lain jika ia bingung dalam menimbang pendapat-pendapat ulama yang ada. Karena orang awam sulit untuk memahami dalil, maka ia ikuti yang paling berilmu di antara ulama yang ada.Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,
Akan tetapi, catatan yang perlu diperhatikan bahwa perselisihan pendapat yang diterima adalah jika dalil yang jadi pegangan masih samar. Itulah khilaf yang masih teranggap. Jadi bukan perbedaan yang kita terima namun karena dalil yang belum sempurna untuk dipahami. Sedangkan dalam suatu masalah jika tidak berdasarkan dalil, maka yang memilih pendapat tanpa dalil tidak teranggap sebagai khilaf (beda pendapat). (Lihat Fathul Dzil Jalali wal Ikram, 15: 157)
Semoga bermanfaat. Wa billahit taufiq was sadaad.
Referensi:
Fathul Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1435 H.I’lamul Muwaqqi’in, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1433 H.
Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan kesembilan, tahun 1431 H.
Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.
Taisir Al Karimir Rahman (Tafsir As Sa’di), Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kedua, tahun 1433 H.
—
Selesai disusun menjelang Zhuhur di Darush Sholihin, 15 Rabi’ul Awwal 1436 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
at 07:50 0 comments
Apa Benar Taklid itu Haram?
Apa Benar Taklid itu Haram?
Rinciannya sebagai berikut:
1- Taklid secara umum dibolehkan untuk orang awam yang tidak punya kemampuan untuk memahami dalil.
Karena Allah memerintahkan kita untuk rajin bertanya pada ahli ilmu jika kita tidak mengetahui. Dalam ayat disebutkan,
2- Orang berilmu yang bisa menelusuri dan memahami dalil harus meninggalkan taklid.
Perincian hal di atas dipaparkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut:
“Menurut mayoritas ulama, ijtihad itu boleh secara umum. Begitu pula taklid boleh secara umum. Setiap orang tidak diwajibkan untuk berijtihad dan tidak diharamkan untuk taklid. Begitu pula setiap orang tidak diwajibkan untuk taklid dan tidak diharamkan untuk berijtihad.
Ijtihad boleh-boleh saja bagi orang yang punya kapabilitas untuk berijtihad. Begitu pula taklid boleh-boleh saja bagi orang yang tidak mampu untuk berijtihad.
Adapun orang yang mampu untuk berijtihad, apakah boleh ia taklid?
Untuk masalah ini ada perselisihan pendapat. Yang tepat, taklid itu boleh ketika tidak mampu untuk berijtihad. Boleh jadi taklid jadi jalan pilihan karena terbatasnya dalil, sempitnya waktu untuk berijtihad, atau tidak nampak dalil yang kuat padanya. Sehingga sesuatu yang seseorang tidak mampu untuk memenuhinya, jadilah gugur wajibnya dan beralih pada penggantinya yaitu taklid sebagaimana halnya ketidakmampuan karena tidak dapat bersuci dengan air.
Orang awam pun demikian adanya. Ketika mampu berijtihad untuk sebagian masalah, maka boleh ia berijtihad. Ijtihad boleh saja sifatnya parsial. Patokan ijtihad dan taklid adalah adanya kemampuan ataukah tidak. Bisa saja seseorang punya punya kemampuan untuk menyimpulkan dalil untuk sebagian masalah (tidak pada masalah yang lain).” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 203-204).
Semoga bermanfaat.
Referensi:
Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kesembilan, tahun 1431 H.Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.
—
Selesai disusun 12:05 AM, 5 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
at 07:43 0 comments
"Indonesia Darurat Pornografi"
pernyataan MenSos bahwa "Indonesia Darurat Pornografi" itu lebih dari benar adanya | inilah urgensi penerapan syariat Islam bagi negeri
dalam
sistem kapitalis, seks itu barang jualan, nikmat yang dicari | didalam
Islam wanita begitu dimuliakan, mendekati zina aja dilarang
invasi
budaya demikian derasnya, sementara akidah didangkalkan | sukses
pornografi ini karena individu, jamaah, dan negara kita lemah
karenanya
Islam menguatkan individu dengan akidah, jamaah dengan amar maruf nahi
munkar, dan negara dengan penerapan syariat Islam :)
untuk individu, disini peran orangtua dan keluarga | senantiasa mendidik anak-anaknya jauh dari setiap bahaya
untuk
jamaah, disini pentingnya lembaga, kelompok dan gerakan dakwah |
menyeru yang baik dan mencegah secara nyata lewat kata dan amal
dan
bagi negara, ini yang paling efektif, penerapan syariat Islam | yang
akan meregulasi negara sesuai syariat, termasuk anti-pornografi
contoh,
dalam sistem kapitalis yang sekarang, zina bisa dilokalisasi, haduh |
dalam sistem Islam, zina itu dosa besar yang harus dicegah
maka
tidak ada solusi menyeluruh selain kembali pada aturan Allah | penerapan
syariat Islam secara total di dalam level regulasi negara
sekarang,
tentu setuap usaha individu dan jamaah, termasuk MenSos, kita dukung |
berantas pornografi semaksimal kita, selamatkan ummat
semoga
Allah kuatkan MenSos kita memperhatikan urusan genting ini | pornografi
yang merusak, dan menguatkan beliau dengan solusi Islam :)
repost;felix siauw
at 07:41 0 comments
buat nikmat hidup tiada hitungan, buat akhirat hitungan dan alasan | padahal semua akan ditinggalkan, untuk yang kekal tiada persiapan
:(
hujani orang lain dengan celaan, buat sendiri selalu ada pembenaran | mengaku Rasulullah teladan, tapi mencontoh lisan baik kita
enggan
inginnya masuk surga, ibadah seadanya, malas-malasan | istighfar jarang, dosa diulang-ulang, maunya dapat ampunan? :(
maunya suami salih, tapi lewat jalan maksiat | pacaran masih dijalani, tapi maunya suami taat? :(
niatnya dekat dengan Allah, tapi aurat masih diumbar | maksiat masih bangga, bagaimana bisa sadar? :(
doa minta rezeki, maunya cepet dikabulkan | tapi ibadah ditunda, yang sunnah dilalaikan :(
berharap dapat yang baik-baik | tapi kita nggak baik-baik :(
istighfar dulu.. :(
at 07:32 0 comments
kebaikan
repost;felix siauw
kebaikan itu kebaikan, walau kecil mestilah didukung dan didoakan | yang
baru mulai berhijab, disemangati agar syar'i, yang belum dibantu :)
karena
bisa jadi senyuman kita, pujian kita, dukungan kita pada hijabnya |
membuat dia istiqamah pada syariat dan ketaatan, baik-baiklah :)
amal
itu setaraf dengan pemahaman, maka bantu yang baru hijrah pahami Islam |
sabar, pelan-pelan, dulu kita belajar pun nggak mudah kan :)
setiap
kebaikan itu dihargai, jangan dianggap tak bernilai | setiap kebaikan
itu harus disyukuri, jangan lebih dulu dicaci maki :)
jadilah yang membantu kebaikan | jangan membuat orang ketakutan :)
at 07:30 0 comments
orang paling baik pun bisa dicela
repost;felix siauw
di dunia ini, orang paling baik pun bisa dicela | dan bahkan, orang paling jahat sekalipun bisa dibela
maka mengapa kita khawatirkan penilaian manusia? | kelak di hari kiamat, hanya Allah yang punya kuasa
jaga
saja lisan kita sesuai Al-Qur'an, maka dihadapan Allah kita aman |
lisan orang tentang kita abaikan, masing-masing punya tanggungan
yang berbicara dibelakang, itu bukti engkau didepan | karena engkau diatas, karena itu ingin dijatuhkan
yang mereka inginkan engkau menoleh kebelakang | dan lupa bahwa tujuanmu adalah kedepan
dan ketika engkau balik menghina barulah mereka diam tertawa | mereka berhasil karena sekarang engkau sama rendahnya :)
perbanyak
membaca Al-Qur'an agar paham bagaimana bersikap baik | teladanui
Rasulullah agar kita membalas justru dengan akhlak baik
dan hal yang paling mendera bagi para pendengki | ialah bila engkau sama taatnya saat dicela dan dimaki :)
at 07:20 0 comments
wanita bekerja itu mubah (boleh)
dalam Islam wanita bekerja itu mubah (boleh) | tapi kalau kerja harus
buka kerudung, lakukan hal haram, untuk apa kerja? malah maksiat?
kerja
itu wasilah jemput rezeki, dan selama masih hidup, rezeki pasti ada |
lha kalau dilarang kerudungan, iya sih rezeki, barakahnya?
kadang
Muslimah merasa rezeki cuma dari situ-situ aja, rela nggak kerudungan,
padahal dapetnya juga nggak seberapa | lupa kalau Allah kaya
selalu
ada pilihan bagi orang yang taat pada Allah | mungkin kalo kamu nggak
ada pilihan, taatmu masih setengah-setengah, mungkiiin..
shalat,
nutup aurat itu udah sepaket, jangan ditinggalin lantaran kerja | wong
kita kerja supaya dapet rezeki barakah buat ibadah, ya gak?
tutup
aurat yang istiqamah, dengan sendirinya jalan terbuka | Allah pasti
buka jalan, bagi yang taat pada-Nya, yakiiin bangeeet..
jangan
sampe deh, demi duluin jalan rezeki dibanding yang ngasi rezeki | kalo
yang ngasi nggak berkenan, jalan manapun percuma kali...
duluin
Allah, yang ngasi rezeki, jalannya bisa dari mana aja | nggak percaya?
tanya aja sama yang udah hijabnya istiqamah, iya apa iya? :)
nggak ada yang berhijab lalu nyesel | kalo nyesel pun, NYESEL kenapa nggak dari dulu! setuju? RT dah! :D
repost; felix siauw
at 07:18 0 comments
hepi aja..
kalau semua kebaikan orang lain tiba-tiba jadi masalah buatmu | itu tanda kamu perlu rekreasi dan refreshing :D
kalau setiap pernyataan orang lain kamu rasa perlu komentari | itu tanda kamu kurang perhatian dan kurang hiburan :)
belajar
itu mudah, ambil yang baik-baiknya, yang buruk jadikan contoh | yang
baik-baik ditiru, yang buruk-buruk cukup tau aja dan maafkan
jaga lisan, jaga amal, bila yang terlihat tak bisa dikendalikan | apalagi niat yang senantiasa berubah di dalam hati?
prasangka,
tuduhan, koreksi, selalu tujukan pada diri sendiri dulu | kepada orang
lain berbaik sangkalah, itu baik baginya, juga bagimu
hidup sudah nggak mudah, jangan ditambah-tambah | woles, adem, ayem, hepi aja..
repost; felix siauw
at 07:13 0 comments



